13 September 2017

judi liong fu

Terang perlahan meredup, siang berganti petang. Malam itu aku diajak teman untuk melihat pasar malam di kuala behe. Pasar malam digelar dalam rangka memeriahkan HUT RI ke - 72. Siang dan sore hari berbagai macam perlombaan di gelar. Malam harinya pasar malam yang memeriahkan kecamatan kuala behe. Terdiri dari berbagai macam stan. Ada stan yang menjual pakaian, aneka aksesoris , makanan dan minuman. Ada orgen tunggal lengkap dengan biduannya yang lihai berjoget. Dan yang tak kalah pentingnya dan jadi pilihan utama pengunjung pasar malam adalah lapak judi.


Lapak judi liong fu


Liong fu adalah jenis judi dengan cara menebak gambar pada dadu yang di guncang oleh bandar. Dadunya berbentuk kubus, mirip dadu dalam permainan ular tangga. Bedanya setiap sisi bergambar binatang mitologi. Ada 6 gambar binatang mitologi dengan istilah bahasa china. Terdiri dari gambar :
~ Liong : Naga
~ Killin : singa langit berwarna hijau (lebih mirip kuda phoenix)
~ Kai : ayam hutan
~ Phung : burung phoenix (lebih mirip ayam potong)
~ Si : macan api berwarna merah (kaya barongsai)
~ Lofu : harimau.

Ada kain/taplak bergambar 6 mahkluk mitologi sama persis dengan gambar yang ada di dadu. digelar dimeja untuk mewakili tebakan gambar pada dadu.

Cara bermain judi ini tentu dengan duit.
Duit di lipat 2 (terkadang sesudah dilipat dua, dilipat lagi di pangkal duit dengan lipatan kecil). Istilah ini namanya Kopan. Pejudi hanya boleh menebak 1 gambar saja.
Jika tebakan buah dadu tepat memperoleh duit 1 banding 5 dan 1 banding 4.
Gambar liong dan lofu kena 1 : 4. Contoh jika pejudi memasang 10.000 dan tebakannya tepat maka hasil yang diperoleh berlipat ganda 4kali lipat menjadi 40.000.
Gambar kilin , kai , phung , si perbandingannya lebih besar jika pejudi memasang Kopan, hasilnya 1 : 5. Jika memasang 10.000 dan tebakannya tepat duit beranak menjadi 50.000.

Ada opsi lain selain memasang dengan cara Kopan, yaitu dengan cara au. Dapat diketahui dengan ciri - ciri duit di lipat memanjang. Pejudi yang memasang dengan cara au berhak menebak 2 gambar. Sisi/ujung duit yang tidak dilipat namanya kepala sedangkan Sisi/ujung duit di lipat kecil istilahnya ekor .
Hasilnya tidak sebesar memasang kopan. Tebakan au yang tepat mengenai kepala adalah duit 1 : 3. Jadi kalau pasang 10.000 menang 30.000.
Kalau tebakan au mengenai ekor maka hanya mendapatkan perbandingan 1 : 1. Contoh pasang 10.000, hanya kena ekor jadi cuma dapat duit 10.000.

Ada juga cara cew/lari.
umpama pasang gambar killin lari ke si. jika gambar dadu yang keluar killin maka menang dikali 4 dari besaran modal. kalau yang keluar gambar si maka draw (tak kalah - tak menang). Nah kalau yang keluar selain gambar killin dan si maka kalah.

Ada juga cara Phiang. Aku tak paham dengan cara yang satu ini. Walaupun sudah dijelaskan berulang kali oleh beberapa narasumber tetap saja aku tak mengerti , maklumlah karna aku bukan seorang pejudi.




Kalau tebakan dadu si pejudi meleset, pasang kai yang keluar killin, pasang killin keluar si maka pejudi akan garuk kepala dan mengumpat.
Seperti orang yang ada di sampingku ini. Sudah Rp 2.000.000 duitnya melayang dalam kurun waktu tak lebih dari 15menit.
Wajahnya pucat dan murung. Duit hasil kerja keras selama berminggu - minggu lenyap dalam hitungan menit saja. Mengumpat penuh penyesalan. "Sialan, meleset. Padahal tadi aku ada piling (feeling) mau pasang killin tapi terpengaruh pasang kai, akhirnya pasang kai yang keluar killin, sialan", ungkapan kekecewaan si pejudi di sampingku.

Aku tak tau berjudi dan tak ingin berjudi.
Aku hanya suka melihat lukisan gambar penuh arti yang ada di taplak meja judi itu. Lukisan binatang mitologi itu begitu indah, menghiptonis mata pengaruhi jiwa untuk mendapatkan kekayaan semu.

Setelah memotret secara diam - diam dari sudut pandang yang sulit karna harus berdesak - desakan dengan pejudi yang bau (entah sudah berapa hari tidak mandi), aku pindah posisi. Tepat di samping bandar. Karna disini agak lengang.

Aku kembali memotret.
Jpret ... semua mata , baik pejudi , penonton judi bahkan bandar menatapku tajam. Tatapan mata itu sungguh menyeramkan , seperti lofu yang hendak menerkam mangsa. 

Celaka, aku lupa mengatur lampu blit.
Untung aku tak grogi. Ku alihkan pandangan menyeramkan itu dengan gerakan mengecoh. Mengambil dompet dan menarik selembar duit Rp 20.000 dan kulipat 2, hendak memasang Kopan.

Kini kondisi kembali kondusif. Taplak bergambar cantik itu kini penuh dengan duit yang di lipat - lipat.
"Daripada aku ketahuan memotret dan jadi bulan - bulanan ajudan bandar judi yang tubuhnya pendek kekar, lebih baik ku ikhlaskan saja duit Rp 20.000 ini dimeja judi.
Dengan penuh penyesalan ku hempaskan duit ini digambar si. Sialnya lagi tebakan ku itu tepat. Duit 20.000 kini menjadi 120.000 (100.000 hasil judi, 20.000 modalku).

Di satu sisi aku senang, duitku kembali lagi dengan berlipat ganda. Sungguh menggoda dosa ini. Di sisi lain aku penuh penyesalan, karna sudah menodai prinsipku dan lupa larangan Agama. Aku tak mau lagi mencicipi dosa ini, kemudian berlalu meninggalkan lapak judi liong fu dengan langkah yang bimbang.

Bersambung .....

0 comments

Post a Comment