24 April 2016

XPDC Ke Riam Budi Bengkayang - KalBar



    02 Februari 2011 , Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Bumi Sebalo. Saya berada disini karna ada suatu pekerjaan yang harus saya selesaikan secara jantan … hehehe. Berhubungan pekerjaan saya sudah selesai, seperti biasa saya ingin berekspedisi dulu sebelum kembali pulang ke Pontianak. Berbekal informasi yang samar samar dari warga yang saya jumpai, saya pun nekad mengunjungi wisata lokal yang katanya bagus di daerah sini. Perjalanan saya kali ini sedikit berbeda, banyak aral yang harus saya laluli. Mulai dari berjalan kaki belasan Km, tersesat (maklum baru pertama kali), sampai digiring seorang bapak ke rumah Kades karna mencurigai saya sebagai penculik. Beruntungnya semua itu dapat saya lalui dan saya dapat menikmati keindahan alam sebagai hadiahnya. Mau tau kisah saya selengkapnya ? duduk yang manis dan scroll kebawah


      Pada hari minggu tanggal 6 Februari 2011 pukul 06.00 pagi saya kembali ber xpdc. Dengan modal receh dan sedikit nekad saya berniat meng-explore salah satu wisata lokal yang ada di Bengkayang seorang diri. Wisata lokal yang akan saya kunjungi ini, kelak saya ketahui bernama Riam Budi. Jujur informasi yang saya dapatkan sangatlah minim mengingat si sumber informasi orangnya rada – rada bocor alias sedenk alias kurang 1 ons. Katanya Riam Budi tidak jauh, seperjalanan hanya sebatang rokok pasti sampai. Tapi kenyataannya sungguh terlalu, jangan kan sebatang rokok sebungkus pun belum tentu sampai. Bayangkan saja belasan kilo saya tempuh dengan berjalan kaki menembus hutan, ladang , hutan lagi trus rawa dan perkampungan belum juga sampai. Saya kembali menyusuri hutan lagi baru sampai tu Riam(air terjun). Buseeeeeeeeeeet dah !!!





       Xpdc dimulai dari daerah BTN griya damai indah (dekat dengan SMKN 1 Bengkayang) menuju Riam Budi yang saya tak tau terletak dimana, namun kelak saya ketahui Riam Budi terletak di desa Riam Pelayo Kec. Sungai Betung. Berbekal informasi dari salah satu warga disana saya pun sedikit nekad (ingat ya Cuma sedikit doank) mengunjungi Riam Budi dengan berjalan kaki dan tanpa membawa apa - apa. Seperjalanan Cuma sebatang rokok pasti sampai, itu lah percakapan terakhir dari seorang warga sembari ia menunjuk ke arah selatan menunjuk kan keberadaan Riam Budi. Dengan penuh semangat saya pun mantap mengarahkan langkah ke selatan untuk menikmati keindahan air terjun. Riam Budi memang belum terekpose luas di kalangan khalayak umum mengingat jaraknya yang lumayan jauh dan jalan nya yang kurang bagus membuat orang enggan berkunjung kesini.




         Hampir 1 jam berlalu tak jua saya temui riam budi, Jangankan gemuruh air terjun, yang saya jumpai hanya persimpangan jalan tandus dan kering. Saya terseret dalam gelombang kebimbangan, apakah kekiri atau kekanan saya ragu. Akhirnya saya mengambil batang kecil yang salah satu ujungnya saya tandai dengan olesan tanah kuning dan saya lempar ke angkasa. Saya berharap pada ujung batang kemana dia akan mengarah ketika jatuh kembali ke bumi. Ternyata ujung batang itu mengarah ke sebelah kanan persimpangan. Oke lanjut, saya pun kembali melanjutkan perjalanan, hemm … itu adalah cara konyol yang saya pernah lakukan sesudahnya(biasanya sih berhasil). 30 menit sudah saya berjalan belum juga sampai, apakah saya salah jalan ! Ancore … kebetulan ada seorang pemburu yang sedang menenteng senapang lantak nya hendak berburu. Saya hampiri dan bertanya, Halo paman, apa kabar ... saya mau Tanya, betulkah ini arah jalan menuju riam ?


Dengan setengah Bahasa Indonesia yang di padu dengan Bahasa Dayak bekatik Beliu pun menjawab : Akaiii … Ku’ saRa’ jalat , jalat ni aRah mao ke kantoR Bupati BaRu !(‘R’ nya Karat). Tua jalat mao ke Riam, sambil menunjuk kearah berlawanan. Aaaaa gajahhhh … ternyata saya salah jalan. Saya berjalan di arah yang berlawanan(alamak,,,berarti saya harus kembali lagi lah bro). Akhirnya setelah setelah berpamitan, kami pun berpisah dan melanjutkan perjalanan masing – masing. Ternyata cara dengan batang tadi gagal, biasalah … 1 dari 3 kegagalan di akibatkan dari keberuntungan yang belum memihak hehehe. Semangat semangat, demi suatu tujuan saya harus semangat. Saya pun kembali melanjutkan perjalanan. Memasuki hutan, melewati ladang, kembali masuk hutan lagi. Entah sudah berapa km yang sudah saya tempuh, mungkin belasan km. Kaki pegel,perut lapar, tekak pun haus.Tapi saya harus semangat, SEMANGAT SEMangat SeManGaT semangat .. Semangka .. pasti enak makan semangka saat ini , lho kok jadi Semangka hehehe … 


Karna tidak membawa bekal apa – apa, ketika haus ya saya minum apa yang ada saja. Entah berapa kali saya meminum air dari anak sungai kecil yang saya jumpai (Pandai jak perut ngolahnya). Sewaktu saya berbaring istirahat sejenak di bawah pohon rindang, terlihat 3 atau 4 burung bermain - main di atas ranting pohon. Mungkin mereka lagi bermain tapok pipit / petak umpet. Corak warnanya yang indah dan suaranya yang merdu, sedikit memulihkan tubuh yang letih ini. Mata terpejam dan hati serasa tentram membuat saya ketiduran. Entah berapa lama saya tertidur. Dan saya terusik oleh silau cahaya matahari yang menembus sela – sela dedaunan (padahal masih ngantuk dan capek). Dari atas kepala saya berbaring terdengar bunyi langkah kaki yang menabrak semak rerumputan. Saya pun bangun dan melihat seorang Pria dewasa melihat kearah saya dengan tatapan mata yang tajam. Tangan kanan nya sigap memegang tungkai parang yang masih bersarang di lingkar pinggang nya serta baris kaki yang membentuk formasi kuda kuda membuat saya sontak terkejut. Saya pun langsung berdiri menenangkan diri dan langsung menyapa ramah, Selamat siang Pak. Bukan jawaban yang saya peroleh melainkan pertanyaan balik yang saya dapatkan. Kamu sedang apa ? mau apa kamu kesini ? - sembari setengah menengadahkan kepalanya ke arah saya. Saya Cuma jalan jalan saja Pak, mau ke riam , jawabku. Sambil berjalan memutariku bapak ini bertanya kembali : Sama siapa kamu pergi ? asal kamu dari mana ? Saya sendiri aja pak , asal saya dari Pontianak tapi aslinya dari Ngabang kab. Landak. Kembali bapak ini berbicara dengan logat khas bekatiknya yang per/kata nadanya naik turun. Ehhhh … Berani benar kamu jalan sendiri di hutan di musim gawat lagi. Jangan – jangan kamu peneget. Apa itu paneget pak ? jangan pura – pura nanya ! paneget itu penculik yang mengambil isi perut manusia untuk dokter yang praktek.(ah bapak, ujung – ujungnya pertanyaan saya pun kejawab. Memang ‘pada saat itu’ isu tentang penculikan yang mengambil organ tubuh sedang heboh – hebohnya berkembang di Kalimantan Barat). Oh paneget … ehhh saya bukan paneget pak jangan sembarangan ngomong dong. Tapi gerak gerik kamu tu bah mencurigakan, lanjut bapak itu ; Gini saja kamu lapor dulu ke Kades dan tunjukan KTP kamu baru kamu boleh jalan. Ok sapa takut, respek ku menjawab tantangan bapak ini. Saya pun di giring bapak ini ke rumah Kades. Singkat cerita saya pun mengisahkan kepada Pak Kades dan dia pun mengerti dan dapat di pahami juga oleh bapak tadi. Ada untungnya juga bertandang kerumah Kades karna secangkir kopi dan kue serabi berhasil masuk ke perutku yang lapar, hehhehehe. Setelah semua masalah selesai saya pun berpamitan kepada Pak kades dan ki sanak yang sempat mencurigaiku tadi. Di perkampungan ini juga (lupa nama kampungnya) saya membeli mi instan untuk di santap di riam. 



       Info terbaru yang saya dapat dari pak Kades membuat saya kembali bersemangat menggapai asa yang sempat tertunda. Saya pun kembali menelusuri hutan, 15 menit berjalan saya menemui banyak bongkahan batu yang berukuran besar. Filing saya sih TKP sudah dekat ni, benar saja … suara gemuruh air sudah mulai terdengar. Saya pun berlari mencari sumber suara dan Djeng … Djeng … Djeng…. Akhirnya sampai juga saya pada tujuan yang saya cari … RIAM BUDI ,Pukul 11.15 saya finish. Landskap nya sungguh indah , udaranya segar, suasanya nya damai, Saya sempat lupa bahwa saya pernah lelah dan hampir patah arang. Tapi setelah melihat keindahan Riam budi semua beban sirna. Hanya saya sendiri yang berada air terjun ini, seolah – olah Riam Budi milik ku seorang. Riam Budi mempunyai ketinggian kira – kira 5 meter dengan lebar 6 meter.
Berikut video jadul yang masih tersisah dari kenang - kenangan di Riam Budi. Maaf kalau videonya jelek, maklum kameranya jadul pada saat itu ;






Karna saya seorang diri, Saya pun bebas berkreasi. Mandi sepuasnya, menari di bawah guyuran air terjun yang brrrrrrrrrr, memasak mi instan dan menyantapnya sambil menikmati suara gemercik air yang terjun bebas menghujam bebatuan. Di Riam Budi pula kunikmati nyanyian dedaunan yang mengalun manis di tiup angin. Paduan suara kodok di tepi aliran sungai dan suara jangkrik yang bersahut - sahutan serta sentuhan manis angin sepoi – sepoi membuat saya terlena dan tak kuasa menahan kantuk. Saya pun tertidur dan tak tau berapa lama saya terlelap.



Setelah bangun dari BoCi(Bobo Ciank) dan Puas meng-explore Riam Budi saya pun beranjak pulang. Pukul 15.00 saya berjalan kembali menuju basecamp. Karna keasyikan melamun keindahan Riam Budi seperjalanan pulang, saya kembali tersesat. Jalan yang saya lalui tidak sama dengan jalan pertama kali yang saya tempuh. Masa bodoh , yang penting saya bahagia. 1 jam 20 menit berjalan akhirnya saya menemukan jalan beraspal, saya telusuri hingga Jl. Sanggau Ledo (lihat papan petunjuk jalan) akhirnya saya pun sampai di basecamp kurang lebih 2jam berjalan kaki. Mungkin kaki ini terasa sengal dan tubuh ini capek tak berjudul, tapi saya sangat bersyukur atas pengalaman indah yang saya peroleh dari xpdc Riam Budi Kab. Bengkayang - KalBar. Sungguh perjalanan yang mengesankan dari tanah bumi Sebalo dan akan trus ku kenang.



THE END KOPI


TAMAT




SALAM BACKPACKER

SALAM RIMBA


0 komentar

Post a Comment