09 March 2016

XPDC KE BUKIT WANGKANG YANG PERMAI

Dimulai pada xpdc saya yang perdana pada tahun 2010. saya bersama 3 rekan saya Very , Didi , Masai melakukan xpdc di Kab. Kubu Raya Kal-Bar. Menyambangi wisata Bukit Wangkang yang Permai , serta kental dengan adat budayanya dan kearifan lokalnya.Bukit Wangkang sendiri adalah salah satu tempat wisata yang belum ter-ekpose luas di kalangan masyarakat Kal-Bar.Mereka yang mengetahui Wisata Bukit Wangkang biasanya dari kalangan masyarakat yang berada diwilayah sekitarnya seperti Teluk Pakedai, Kubu,Rasau Jaya dan sebagainya.Bukit Wangkang terletak di desa Bemban kec. Kubu Kab. Kubu Raya Kal-Bar.Umumnya pengunjung banyak dari kalangan remaja sebab untuk mencapai puncak bukit butuh perjuangan yang ekstra sehingga tidak semua orang sanggup menempuhnya. Meski Bukit  Wangkang tidaklah setinggi Gunung yang berada di pulau Jawa yang ketinggian Bukit Wangkang kira - kira 500 dpl. 
Tapi dengan medan yang curam , tingkat kemiringan yang tinggi , serta cerita mistisnya , belum lagi di perparah dengan akses dan infrastruktur yang tidak memadai membuat pengunjung berpikir dua kali untuk berkunjung. Istilah "cari penyakit" pun mengemuka jika mau berkunjung ke Bukit Wangkang.
Tapi jusru itu yang kami buru, kami menamakan diri kami dengan nama Grup Pecinta Alam KalBar (pada saat itu belum tau istilah backpacker apalagi survival)
Namun menurut informasi yang saya dapatkan, sekarang 2016 Red. Infrastruktur sudah cukup memadai karna kegigihan penduduk setempat yang bergotong royong membangun jalan akses dan bantuan dari Pemerintah setempat serta pihak Perusahaan perkebunan kelapa sawit yang ikut andil dalam proses pembangunan sarana dan infrastruktur.

Hari Pertama :


Perjalananku serta 3 rekanku dimulai dari kota Pontianak. Sore pukul 16.00 wib kami berangkat, dengan bekal seadanya kami pun meluncur menuju Kab. Kubu Raya menggunakan motor.Saya menungggangi Honda Astrea rakitan tahun 97.Meski motor butut tapi tarikannya dasyat bro,bandel irit lagi. Sampai di bintang Mas kami pun menyebrang sungai dengan menggunakan jasa kapal klotok, tarif per motornya 5ribu.Tiba di sebrang sungai tepatnya di area perkebunan kelapa sawit, kami pun melesat laju dengan penuh percaya diri bak pembalap moto gp agar cepat sampai (emangnya ada raider moto gp balapan di trek perkebunan kelapa sawit ???... hehehe).
 Awalnya jalan perkebunan kelapa sawit mulus - mulus saja walau debu tanah kuning mengejar kami dari belakang, namun setelah sampai di persimpangan, jalannya hancur luluh lantah. Alih - alih berharap cepat sampai tujuan kami malah tersesat di pertengahan jalan perkebunan kelapa sawit. Jalannya yang "Aduhai" sangat menakutkan.Jujur saya lebih memilih ketemu kuntilanak daripada tersesat di perkebunan kelapa sawit itu yang jalannya bagaikan kubangan lumpur kerbau.Sampai sampai lampu motor saya copot kedepan ga' tau pelanting kemana. Seolah olah biji mata yang melotot keluar dari kelopak mata karna tak sanggup melihat realita yang ada di depannya.buuseeeettt ni motor, mana sudah malam,gelap lagi.untungnya teman saya Didi ada bawa senter, lumayan untuk penerangan dalam situasi darurat.Tujuan belum sampai, tersesat, sudah larut malam, lapar, capek lagi . Alamaaaaaaax zank zank ... kalau di ingat - ingat tulang ini terasa ngilu.Padahal navigator bernama Very pernah tinggal di daerah ini , anehnya kok bisa tersesat seperti ini sih ? ... itu lah pertanyaan yang menyerang Very pada saat itu tapi dengan santainya very mengelak dan berdalih sudah lama tak berkunjung kesini jadi lupa - lupa ingat (aaahhh... alasan aja lu ver, lagu lama ... Megy Z).

Kami pun berunding mencari titik temu permasalahan. Saat sedang berdiskusi ada sepasang sinar yang terlihat nanar menyongsong dari kejauhan yang kami sadari itu adalah sepasang lampu motor sekaligus dewa penyelamat kami. Pengendara Sepasang motor itu adalah penduduk desa bemban yang baru pulang dari rumah saudaranya di Pontianak.Singkat cerita kami pun minta tolong diantarkan kerumah saudara very yang tinggal di desa parit sembilan.Akhirnya kami pun tiba dirumah paman very pada pukul 22.00 wib. Tuan rumah dengan ramah menyambut kedatangan kami yang tiba - tiba dan sudah larut malam. Sungguh baik hatimu dikau bapak.

Bapak ini bernama Bujang, Walaupun Bujang beliau sudah mempunyai anak lho, maklum Bujang adalah namanya bukan gelarnya. Sebenarnya rencana awal mau menginap di puncak Bukit Wangkang tapi karna hidup banyak rasa (insiden tak terduga) terpaksa kami harus menginap di rumah pak Bujang paman very.Ada untungnya juga menginap dirumah pamannya Very selain bisa nginap gratis melepas lelah, kami juga bisa menghilangkan rasa lapar alias makan gratis. Sayur serta lauk pauknya mewah bro, seimbang antara karbohidrat, protein dan serat karna setelah makan dihidangkan buah pisang dan nagka sebagai makanan cuci mulut hehehehe...
Oleh karena karbohidrat seimbang dengan serat, perut saya memproses makanan dengan cepat  sehinggga 1jam kemudian tepatnya pukul 23.30 wib perut saya mules dan tak bisa diajak berdamai.Mana orang - orang sudah pada tidur lagi, mau bertanya letak wc sungkan.Ku bangunkan Very untuk mengadu keluh kesahku. Very pun membantu mencarikan wc.Rumah Pak Bujang cukup besar, cukup sulit mencari "bilik termenung" berada.Kebetulan Pak Bujang terbangun, pikirku beliau terbangun akibat kebelet pipis rupanya beliau terbangun bukan karna kebelet melainkan haus ingin minum. Tanpa basa basi saya pun bertanya padanya letak wc dimana.Sambil tersenyum dia menjawab wc belum dibuat,kalau mau be**k bawa obor ini dan air seember trus mojok aja dibawah pohon kopi situ. APAAAAAA.....Rumah sebesar ini tidak ada wc !!!  Sungguh terlalu kau Kisanak. 
Bukan saatnya terkejut karna situasi sudah genting.saya pun menerima anjuran Pak Bujang. Baru level 2 saya beteran, sesosok penampakan hitam namun samar - samar terlihat disudut semak belakang sebelah kanan saya.Siapa itu ... tanyaku. Semakin lama kian mendekat sosok itu yang rupanya seekor babi bertubuh besar. Babi itu hendak menghardik 'harta karunku'.Saking terkejutnya saya, saya pun meloncat tak mau ambil resiko(bisa - bisa bokong ane dilahap juga) dan celakanya lagi celana lupa saya naikkan , sempoyongan tubuhku mengimbangi loncatan tadi. Beruntung saya tidak jatuh, sialan tu babi ganggu konsentrasi orang aja padahal baru level 2, biasakan sampai level 5. Singkat cerita saya pun kembali ke bilik untuk melanjutkan tidur agar esok kembali bugar dan dapat menempuh perjalan dengan semangat.

Hari kedua :

Baru bangun tidur sudah disediakan kopi sama istri Pak Bujang. Baik sekali keluarga Pak Bujang ini, semoga berkat Tuhan tinggal didalam keluarga ini , Amin.
Sewaktu ngopi dan sarapan roti bersumbu kami dibekali pengetahuan oleh Pak Bujang tentang Bukit Wangkang. Konon katanya Bukit Wangkang adalah kapal dari kerajaan cina yang tenggelam dan terdampar trus lama kelamaan menjadi bongkahan batu.memang sepintas mata memandang Bukit Wangkang terlihat seperti kapal kuno.Pak Bujang juga bercerita tentang pantangan kalau mau selamat mendaki Bukit Wangkang misalnya jangan berbicara jorok dan kencing sembarangan. 
Pernah diwaktu lampau sepasang remaja ditemukan tewas menggenaskan.Meninggalnya karna jatuh ke jurang, tapi anehnya alat kelamin sepasang remaja ini menempel.Penduduk setempat mengatakan ramaja itu berbuat tidak senonoh di area Bukit Wangkang. Berbekal pengetahuan dari Pak Bujang membuat kami semakin penasaran untuk menelusuri Bukit Wangkang. Kira - kira pukul 08.00 pagi kami pun berangkat dengan semangat yang berapi - api menuju Bukit Wangkang.

Waktu menuju kaki bukit kami melintasi perkampungan yang terletak didekat kaki bukit.Ada daya tarik tersendiri bagi kami selain bisa berintegrasi dengan penduduk lokal, kami pun bisa berteman dan mengajak salah seorang pemuda untuk ikut bergabung bersama kami mendaki Bukit Wangkang.Namanya Ayik , hemmm nama yang aneh tapi saya tau itu bermakna dalam. Maknanya apa saya pun tak tahu, saya lupa tanya bapaknya , hehehehe. 
melewati perkampungan penduduk lokal juga menghadirkan rasa bangga pada diri kami layaknya "Artis masuk kampong", semua mata tertuju padamu. Maklum wajah kami yang tampan di atas rata-rata cukup mampu untuk membius orang - orang yang melihat, hahahahaha.
Sesampainya di kaki bukit , kami panjatkan Doa agar selalu dilindungi oleh Tuhan di sepanjang jalan kami.Awalnya enteng - enteng saja, jalan cukup lebar dan tidak curam.Kami melewati aliran sungai yang mengalir melewati kaki bukit.Sesekali kami rehat untuk sekedar bermain air yang jernih nan sejuk.Melihat aktivitas ikan - ikan kecil dan udang yang asyik berenang mengikuti aliran sungai, serta berfoto ria sebagai kenang kenangan.


Setengah jam berlalu mulailah pada perjalanan yang sesungguhnya. Jalan setapak yang mulai sempit terhimpit semak taboyo, serta jalan yang bertaburan batu cadas. 35 menit berlalu lutut ini serasa mau copot, nafas terasa sengal maka kami pun beristirahat.Tepatnya diantara kaki bukit dan puncak. Rekan saya yang bernama Didi pucat pasi wajahnya akibat lelah yang teramat sangat, beda halnya dengan Very dan Masai yang masih bersemangat sambil bergurau merayu Didi. Ayik dengan santainya menghisap kretek seolah - olah tidak merasa lelah sama sekali. Saat menikmati istirahat suara serangga dan kicauan burung ikut memeriahkan suasana alam yang masih perawan dan asri. Lembut angin berhembus menyapu peluh yang menempel diwajah serta merasuk memberi kesejukan pada jiwa yang letih ini.Lambaian dahan hijau bagaikan cheerleader yang bersorak menyemangati kami agar semangat mencapai puncak.


15 menit istirahat cukup untuk memantapkan kami untuk melanjutkan xpdc. Medan yang terjal berbatu serta kemiringan yang tinggi kini tidak kami hiraukan lagi. Kami menikmati setiap hentakan kaki , terkadang berjabat tangan saling membantu pada saat mendaki lokasi yang terjal. Sesekali nafas terasa sengat  namun dua tiga kali semangat ini kembali terpacu. Pemandangan dari kaki bukit hingga puncak sungguh mempunyai nilai tersendiri. 45 menit berlalu akhirnya kami pun Finish pada Puncak Bukit Wangkang. Rasa lelah kali ini berkurang daripada ketika pertama kali mendaki.Mungkin paru paru dan jantung saya sudah bisa beradaptasi ketimbang saat pendakian awal. 


Belum lagi panorama yang disajikan dihadapan kami sungguh mengusir rasa lelah yang sempat menderu.Kami dapat melihat sungai Kapuas yang membentang membelah daratan, Tebing - tebing dari sisi kanan dan kiri bukit bercorak klasik, sangat pantas menyandang gelar Tato Alam. Kadar oksigen yang tinggi ciptakan kesegaran tiada tara, paduan suara burung yang bersahut - sahutan, gesekan tanaman rotan serta batang bambu yang berbenturan dengan bambu yang lainnya menambah harmoni suasana.Oleh sebab itu tak ragu saya memberi gelar BUKIT WANGKANG YANG PERMAI.


Puas memanjakan sanubari tidak serta merta kisah ini berakhir. Sesudah makan siang dan istirahat yang di nilai cukup, perasaan sedikit terganggu dengan sampah yang bertebaran dimana - mana akibat ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Kami putuskan untuk melakukan gerakan pungut sampah dan sampailah teman saya pada sebuah gua kecil, penemuan ini kami manfaatkan dengan berfoto ria. Pungut sampah kami rasa cukup dan berhubungan kami capek membawa turun tu sampah, maka kami bakar saja di TKP. Setelah itu kami pun turun pulang dengan membawa hati yang penuh dengan rasa syukur dan bahagia. Kami singgah sebentar dirumah Pak Bujang mengambil motor yang kami titipkan serta tak lupa mengucapkan rasa terima kasih kami kepada keluarga Pak Bujang. Kami pun bertolak pulang menuju Pontianak dengan hati yang terlanjur bahagia. Serasa tidak ada hambatan berarti lagi ketika kami harus menempuh jalan perkebunan kelapa sawit. Dan kami pun tiba di Pontianak pada sore hari dengan selamat.

Inilah kisah XPDC perdana saya , kiranya bermanfaat bagi sobat pembaca.
Salam Rimba salam Backpacker survival.

0 komentar

Post a Comment